Daftar Isi
PART 1 — Singa dari Sungai Citarik
Matahari siang itu menggantung tepat di atas Kampung Waringin. Panasnya bukan main. Daun-daun pisang di tepi sungai sampai tampak lemas, sementara suara tonggeret terdengar nyaring dari balik rumpun bambu.
Namun siang yang biasanya tenang itu tiba-tiba berubah menjadi kacau.
“Lari! Ada hewan besar di sungai!”
Teriakan seorang warga membuat orang-orang yang sedang mencuci, memancing, dan mengambil air langsung menoleh ke arah Sungai Citarik.
Di tengah derasnya arus, tampak sesuatu bergerak tak beraturan. Awalnya warga mengira itu batang pohon besar yang hanyut dari hulu. Tapi saat benda itu muncul ke permukaan, semua orang mendadak membeku.
Seekor singa.
Tubuhnya besar, bulunya basah kuyup, dan surainya menempel berat di lehernya. Hewan buas itu tampak berusaha melawan arus, tetapi tubuhnya terus terseret ke bagian sungai yang lebih dalam. Matanya menyala ketakutan, napasnya terputus-putus, dan cakarnya beberapa kali mencoba mencengkeram batu licin di tepian sungai.
“Ya Allah… singa dari mana itu?” bisik seorang ibu sambil menarik anaknya menjauh.
Beberapa lelaki kampung mundur perlahan. Ada yang bersembunyi di balik pohon kelapa, ada yang naik ke gubuk sawah, ada juga yang hanya berdiri dengan wajah pucat.
Tidak ada yang berani mendekat.
Singa itu memang sedang lemah. Tapi tetap saja, ia adalah hewan buas. Sekali menerkam, nyawa manusia bisa melayang.
Di antara kerumunan warga, berdirilah seorang lelaki bernama Jaka Tirta.
Ia bukan orang kaya. Bukan pendekar. Bukan pula orang yang dikenal pemberani. Jaka hanyalah penjala ikan sederhana yang setiap hari hidup dari sungai itu. Tubuhnya kurus, kulitnya gelap terbakar matahari, dan pakaiannya selalu sederhana: baju kampret lusuh, celana hitam selutut, serta ikat kepala batik yang sudah mulai pudar warnanya.
Namun hari itu, ketika semua orang memilih mundur, Jaka justru melangkah maju.
“Jaka! Jangan gila!” teriak Pak Suradi, tetua kampung. “Itu singa, bukan kambing hanyut!”
Jaka berhenti di tepi sungai. Matanya tak lepas dari hewan besar yang mulai tenggelam itu.
Ada sesuatu yang aneh di dada Jaka. Ia takut, tentu saja. Tangannya gemetar. Kakinya terasa berat. Tapi melihat makhluk hidup berjuang antara hidup dan mati di depan matanya, Jaka tidak sanggup hanya diam.
Ia teringat pesan almarhum ayahnya dulu.
“Le, kalau kamu melihat yang lemah sedang sekarat, jangan tanya dia manusia atau hewan. Kalau kamu mampu menolong, tolonglah.”
Jaka menarik napas panjang.
Lalu tanpa menunggu siapa pun, ia melemparkan topi capingnya ke tanah dan menceburkan diri ke sungai.
Byurrr!
Warga berteriak histeris.
“Jaka! Kembali!”
“Jangan dekat-dekat!”
“Dia bisa mencabikmu!”
Tapi Jaka sudah berada di tengah arus.
Air Sungai Citarik hari itu sedang deras karena semalam hujan turun di hulu. Arusnya mendorong tubuh Jaka ke kanan dan kiri. Beberapa kali kakinya menghantam batu sungai yang tajam. Rasa perih menjalar, tetapi ia tidak berhenti.
Singa itu semakin lemah.
Kepalanya muncul sebentar, lalu tenggelam lagi. Suara raungannya tak lagi garang, lebih terdengar seperti rintihan makhluk yang kehabisan tenaga.
Jaka berenang sekuat mungkin. Jaraknya dengan singa itu tinggal beberapa meter.
Saat ia berhasil mendekat, singa itu tiba-tiba mengibaskan cakarnya.
Sraakk!
Air muncrat ke wajah Jaka. Ia nyaris terkena sabetan kuku tajam itu. Warga di tepian menjerit.
Namun Jaka paham, hewan itu bukan sedang menyerang. Ia hanya panik. Sama seperti manusia yang hampir tenggelam, ia mencakar apa pun yang ada di dekatnya.
“Tenang…” gumam Jaka dengan napas tersengal, seolah singa itu bisa mengerti. “Aku cuma mau nolong…”
Ia menunggu beberapa detik, lalu menyelam dari sisi belakang. Dengan sisa keberanian yang ia miliki, Jaka meraih bagian surai singa yang basah dan mendorong tubuh besar itu ke arah tepian.
Beratnya luar biasa.
Seperti menarik karung padi raksasa yang dipenuhi batu.
Arus terus menghantam. Napas Jaka mulai pendek. Dadanya panas. Kedua lengannya terasa hampir mati rasa. Tapi ia tetap bertahan.
Sedikit lagi.
Sedikit lagi.
“Tarik, Jaka! Ke kanan!” teriak seorang pemuda dari tepian, yang akhirnya memberanikan diri melemparkan seutas tali bambu.
Jaka berhasil menangkap tali itu dengan satu tangan. Tangan lainnya masih mencengkeram surai singa.
Beberapa warga mulai sadar. Ketakutan mereka belum hilang, tapi melihat Jaka mempertaruhkan nyawa sendirian, hati mereka ikut tergerak.
“Ayo bantu tarik!” seru Pak Suradi.
Empat orang lelaki kampung akhirnya menarik tali itu bersama-sama.
Perlahan, tubuh Jaka dan singa besar itu mendekati tepian berbatu.
Dengan dorongan terakhir, Jaka berhasil mendorong singa itu ke darat. Hewan itu jatuh tergeletak di tanah basah, napasnya berat, tubuhnya naik turun, dan matanya setengah terpejam.
Jaka sendiri tersungkur di sampingnya.
Ia batuk-batuk, memuntahkan air sungai, lalu berusaha merangkak menjauh. Namun tubuhnya terlalu lelah. Tenaganya habis. Kakinya gemetar dan lengannya terasa seperti bukan miliknya lagi.
Warga berteriak dari kejauhan.
“Jaka! Cepat menjauh!”
“Dia sudah sadar!”
“Jangan diam di situ!”
Jaka mencoba bangkit, tapi lututnya lemas.
Di depannya, singa itu perlahan membuka mata.
Hening.
Sangat hening.
Bahkan suara tonggeret yang tadi nyaring seolah ikut berhenti.
Singa itu mulai mengangkat kepalanya. Air menetes dari surainya. Napasnya masih berat, tapi sorot matanya mulai tajam kembali. Ia menatap Jaka lama sekali.
Jaka menelan ludah.
Jarak mereka hanya beberapa langkah.
Terlalu dekat untuk lari.
Terlalu dekat untuk selamat jika singa itu menyerang.
“Jaka…” suara Pak Suradi terdengar gemetar. “Jangan bergerak…”
Jaka diam.
Singa itu bangkit perlahan. Kakinya masih goyah, tapi tubuhnya tetap tampak besar dan menakutkan. Lalu, tanpa diduga, hewan itu membuka mulutnya lebar-lebar.
RROOAARRR!
Raungannya mengguncang tepian Sungai Citarik.
Burung-burung beterbangan dari pepohonan. Anak-anak menangis. Beberapa warga langsung mundur ketakutan.
Jaka memejamkan mata.
Ia mengira semuanya akan berakhir di sana.
Namun beberapa detik berlalu…
Tidak ada cakaran.
Tidak ada terkaman.
Tidak ada rasa sakit.
Ketika Jaka perlahan membuka matanya, ia melihat singa itu masih berdiri di hadapannya.
Lalu hewan buas itu melakukan sesuatu yang membuat seluruh warga Kampung Waringin terdiam tanpa suara.
PART 2 — Auman di Tepian Sungai
Singa itu tidak menerkam.
Tidak juga mencakar.
Di hadapan Jaka Tirta yang masih terduduk lemas, hewan buas itu justru menundukkan kepalanya perlahan.
Warga Kampung Waringin yang tadinya berteriak, mendadak terdiam.
Pak Suradi sampai menahan napas. Anak-anak berhenti menangis. Bahkan suara air Sungai Citarik yang mengalir deras seolah terdengar lebih pelan dari biasanya.
Singa itu melangkah maju satu langkah.
Jaka refleks ingin mundur, tetapi tubuhnya terlalu lemah. Ia hanya bisa memandangi makhluk besar itu dengan jantung yang berdebar keras.
“Jaka… jangan bergerak,” bisik Pak Suradi dari kejauhan.
Singa itu mendekat.
Satu langkah.
Dua langkah.
Lalu sesuatu yang tak seorang pun sangka terjadi.
Hewan itu menempelkan kepalanya ke lutut Jaka.
Pelan.
Sangat pelan.
Seperti seekor anak kucing yang meminta belas kasih.
Jaka tertegun.
Matanya membesar. Ia tidak mengerti apakah ini nyata atau hanya bayangan karena tubuhnya terlalu lelah. Singa itu, sang raja hutan yang ditakuti semua orang, kini justru menunduk di hadapannya.
Bukan seperti ingin menyerang.
Melainkan seperti sedang berterima kasih.
“Ya Allah…” gumam seorang ibu sambil menutup mulutnya.
“Dia… dia tidak menyerang Jaka?” bisik pemuda kampung.
Jaka perlahan mengangkat tangannya. Semua warga langsung panik.
“Jangan disentuh!”
“Jaka, jangan macam-macam!”
Namun Jaka seperti tahu. Di balik mata tajam hewan itu, tidak ada amarah. Tidak ada niat membunuh. Yang ada hanya lelah, takut, dan rasa sakit.
Dengan tangan gemetar, Jaka menyentuh surai basah singa itu.
Singa itu diam.
Tidak mengaum.
Tidak melawan.
Hanya memejamkan mata sejenak, seolah sentuhan manusia sederhana itu membuatnya merasa aman.
Tiba-tiba, dari balik semak-semak di seberang sungai, terdengar suara ranting patah.
Krak.
Semua orang menoleh.
Seekor anak singa muncul dengan tubuh kecil yang menggigil. Bulunya basah, kakinya pincang, dan suaranya lemah seperti tangisan tertahan.
“Ada anaknya…” kata Pak Suradi pelan.
Barulah warga mengerti.
Singa besar itu bukan hanya jatuh ke sungai karena tersesat.
Ia mungkin sedang berusaha menyelamatkan anaknya.
Anak singa itu berjalan tertatih-tatih ke arah induknya. Begitu sampai, ia langsung menempelkan tubuh kecilnya ke kaki singa besar tersebut.
Jaka memandang pemandangan itu dengan dada sesak.
Selama ini manusia memandang singa hanya sebagai hewan buas. Tapi di depannya, yang terlihat bukan monster. Yang terlihat adalah seekor makhluk hidup yang juga punya rasa takut, punya keluarga, dan punya naluri untuk melindungi.
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Dari arah jalan setapak, terdengar suara derap kaki kuda dan teriakan kasar.
“Di mana singanya?!”
Beberapa lelaki asing datang membawa tombak, jaring besar, dan senapan tua. Pakaian mereka bukan seperti warga kampung. Wajah mereka keras, mata mereka tajam, dan di pinggang mereka tergantung tali-tali tebal.
Pemimpin kelompok itu, seorang pria berkumis tebal bernama Darsa Jagal, langsung tersenyum saat melihat singa besar di tepian sungai.
“Nah, akhirnya ketemu juga,” katanya sambil tertawa pendek. “Hewan mahal tidak boleh lepas begitu saja.”
Warga mulai gelisah.
Pak Suradi maju beberapa langkah.
“Kalian siapa? Kenapa membawa senjata ke kampung kami?”
Darsa menatap Pak Suradi dengan wajah meremehkan.
“Itu bukan urusan kalian, orang tua. Singa itu milik kami.”
Jaka mengernyit.
“Milik kalian?”
Darsa tersenyum miring.
“Singa itu kabur dari rombongan pertunjukan kami semalam. Sudah banyak uang keluar untuk menangkapnya. Jadi, minggir. Kami akan membawanya kembali.”
Mendengar itu, singa besar tersebut langsung menggeram pelan.
Anak singa bersembunyi di balik kaki induknya.
Jaka mulai paham. Hewan itu bukan datang dari hutan. Ia kabur dari orang-orang yang memperlakukannya sebagai tontonan.
Darsa memberi isyarat kepada anak buahnya.
“Tangkap.”
Dua lelaki maju membawa jaring.
Singa itu berdiri, tubuhnya masih lemah, tetapi ia menempatkan dirinya di depan anaknya. Geramannya semakin dalam.
Warga mundur ketakutan.
Namun Jaka justru berdiri.
Meski tubuhnya masih gemetar, ia mengambil langkah kecil dan berdiri di antara singa dan para pemburu itu.
“Jaka, jangan ikut campur!” teriak salah satu warga.
Darsa menatapnya tajam.
“Kau siapa?”
Jaka mengatur napas.
“Saya hanya orang kampung.”
“Kalau cuma orang kampung, jangan sok jadi pahlawan.”
Jaka menatap singa di belakangnya, lalu menatap anak singa yang masih menggigil.
“Mereka baru saja hampir mati. Biarkan mereka pergi.”
Darsa tertawa keras.
“Pergi? Kau tahu berapa harga hewan seperti itu? Singa itu bisa menghasilkan uang lebih banyak daripada seluruh hasil ikanmu selama sepuluh tahun.”
Kata-kata itu membuat Jaka terdiam sejenak.
Ia memang miskin. Hidupnya sederhana. Setiap hari ia menjala ikan dari pagi sampai sore hanya untuk membeli beras dan kebutuhan ibunya yang sakit di rumah.
Tapi justru karena hidupnya sederhana, Jaka tahu satu hal.
Tidak semua yang bernilai harus dijual.
“Kalau dia kabur,” kata Jaka pelan, “mungkin karena dia tidak ingin hidup di tangan kalian.”
Wajah Darsa mengeras.
“Singkirkan dia.”
Salah satu anak buah Darsa maju hendak mendorong Jaka. Namun sebelum tangannya menyentuh tubuh Jaka, singa besar itu mengaum keras.
RROOAARRR!
Semua orang mundur.
Anak buah Darsa jatuh terduduk, wajahnya pucat.
Singa itu berdiri tepat di belakang Jaka, seolah mengerti bahwa lelaki sederhana itu sedang melindunginya.
Namun Darsa tidak takut lama-lama. Ia mengangkat senapan tua dari bahunya.
Warga berteriak panik.
“Jangan!”
Jaka menoleh cepat.
Ia melihat moncong senapan itu diarahkan bukan kepada dirinya, melainkan kepada anak singa yang berdiri lemah di belakang induknya.
Waktu terasa melambat.
Darsa menarik pelatuk.
Dan tanpa pikir panjang, Jaka melompat.
Dor!
Suara tembakan memecah udara siang.
Burung-burung beterbangan dari pohon bambu.
Warga menjerit.
Jaka jatuh berguling di tanah basah. Peluru itu tidak mengenai anak singa, tetapi menyerempet lengan Jaka. Darah mulai mengalir dari bajunya.
“Jaka!” teriak Pak Suradi.
Singa besar itu menatap darah di lengan Jaka.
Matanya berubah.
Bukan lagi mata hewan yang ketakutan.
Melainkan mata seekor induk yang melihat orang baik dilukai karena melindungi anaknya.
Singa itu mengaum sekali lagi.
Kali ini lebih keras.
Lebih dalam.
Lebih mengguncang.
Darsa dan anak buahnya mundur. Senapan di tangan Darsa mulai gemetar.
Namun sebelum keadaan semakin kacau, suara kentongan terdengar dari arah kampung.
Tong! Tong! Tong!
Para warga yang tadi bersembunyi kini berdatangan membawa bambu, cangkul, dan obor. Bukan untuk melawan singa, tetapi untuk menghadapi orang-orang bersenjata itu.
Pak Suradi berdiri paling depan.
“Ini kampung kami,” katanya tegas. “Kalian tidak boleh seenaknya menangkap makhluk yang sudah kami selamatkan.”
Darsa meludah ke tanah.
“Kalian mau melindungi singa?”
Pak Suradi menatapnya tajam.
“Kami melindungi yang lemah dari yang serakah.”
Untuk pertama kalinya, Darsa tampak ragu.
Jumlah warga semakin banyak. Mereka berdiri di belakang Jaka, Pak Suradi, dan singa besar itu. Tidak ada yang benar-benar berani mendekati hewan buas tersebut, tetapi mereka semua tahu satu hal: hari itu, musuh mereka bukan singa.
Musuh mereka adalah manusia yang hatinya lebih buas daripada hewan.
Darsa akhirnya memberi isyarat kepada anak buahnya untuk mundur.
“Ini belum selesai,” katanya dingin. “Kalian akan menyesal.”
Lalu rombongan itu pergi, menghilang di balik jalan setapak menuju hutan jati.
Setelah mereka pergi, suasana kembali hening.
Jaka masih terduduk, memegang lengannya yang berdarah. Pak Suradi dan beberapa warga segera mendekat membantunya.
Namun sebelum mereka sempat mengangkat Jaka, singa besar itu berjalan perlahan ke arahnya.
Semua orang kembali waspada.
Singa itu menunduk.
Lalu dengan sangat hati-hati, ia menjilat darah di lengan Jaka sekali.
Jaka menahan napas.
Aneh sekali.
Sentuhan itu bukan ancaman. Bukan pula serangan.
Seperti tanda terima kasih.
Setelah itu, singa besar tersebut menatap Jaka lama. Anak singa berdiri di sampingnya. Keduanya lalu berjalan pelan menuju hutan di seberang sungai.
Beberapa langkah sebelum masuk ke rimbun pepohonan, singa itu berhenti.
Ia menoleh ke belakang.
Matanya bertemu dengan mata Jaka.
Untuk sesaat, Jaka merasa seperti mendengar suara tanpa kata.
Terima kasih.
Lalu singa itu masuk ke dalam hutan bersama anaknya, menghilang di balik bayangan pohon-pohon besar.
Warga Kampung Waringin terdiam.
Hari itu, mereka belajar bahwa keberanian bukan selalu soal melawan.
Kadang, keberanian adalah tetap menolong meski tahu risikonya besar.
Namun Jaka belum tahu…
Pertemuannya dengan singa itu bukan akhir dari kisah.
Karena malam harinya, saat seluruh kampung tertidur, dari arah hutan terdengar auman panjang yang membuat semua orang terbangun.
Dan kali ini, auman itu bukan tanda perpisahan.
Melainkan tanda bahaya.
PART 3 — Jejak di Bawah Pohon Waringin
Malam turun lebih cepat dari biasanya di Kampung Waringin.
Langit gelap tanpa bulan. Angin dari arah hutan bertiup dingin, membuat daun-daun bambu saling bergesekan seperti bisikan orang-orang yang sedang gelisah.
Di rumah kecilnya, Jaka Tirta duduk bersandar di dinding bambu. Lengannya sudah dibalut kain putih oleh ibunya. Darah memang sudah berhenti, tetapi rasa perihnya masih terasa sampai ke tulang.
Ibunya, Mbok Sari, menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Kamu ini, Le…” ucapnya pelan. “Menolong itu baik. Tapi nyawamu juga harus kamu jaga.”
Jaka hanya tersenyum lemah.
“Kalau tadi aku diam saja, Mbok… mungkin anak singa itu sudah mati.”
Mbok Sari menghela napas panjang. Ia tahu anaknya keras kepala. Tapi ia juga tahu, hati Jaka tidak pernah tega melihat makhluk hidup menderita.
Belum sempat Mbok Sari menjawab, tiba-tiba terdengar suara auman dari arah hutan.
RROOAARRR!
Auman itu panjang.
Dalam.
Dan berbeda dari sebelumnya.
Bukan auman marah.
Bukan pula auman kemenangan.
Auman itu terdengar seperti panggilan.
Warga kampung langsung keluar dari rumah masing-masing. Lampu minyak dinyalakan. Anak-anak menangis. Para lelaki membawa obor dan bambu runcing.
Pak Suradi bergegas ke halaman rumah Jaka.
“Jaka!” panggilnya. “Kau dengar itu?”
Jaka berdiri perlahan, menahan sakit di lengannya.
“Itu suara singa yang tadi,” katanya.
Pak Suradi mengangguk cemas.
“Tapi kenapa dia kembali bersuara dekat kampung?”
Belum ada yang bisa menjawab.
Lalu dari ujung jalan setapak, seorang pemuda berlari terengah-engah. Namanya Rangga, penjaga sawah yang biasa ronda malam.
“Pak Suradi! Jaka!” teriaknya panik. “Ada orang-orang asing masuk hutan lagi! Saya lihat cahaya obor dari arah bukit!”
Wajah Pak Suradi berubah tegang.
“Darsa…”
Jaka langsung paham. Pemburu itu ternyata belum pergi jauh. Mereka hanya menunggu malam agar bisa masuk hutan diam-diam dan menangkap singa beserta anaknya.
Auman tadi mungkin bukan sekadar suara.
Mungkin singa itu sedang memberi tanda.
Jaka menggenggam kain pembalut di lengannya.
“Kita harus ke sana.”
Mbok Sari langsung menahan bahunya.
“Kamu terluka, Le.”
Jaka menatap ibunya dengan lembut.
“Justru karena aku sudah menolongnya dari sungai, aku tidak bisa membiarkannya ditangkap lagi.”
Pak Suradi terdiam sejenak. Lalu ia menatap para warga yang mulai berkumpul.
“Yang ikut, bawa obor. Tapi ingat, kita bukan mau berburu. Kita mau mencegah orang-orang serakah itu merusak hutan dan menyakiti makhluk hidup.”
Beberapa warga saling pandang. Ketakutan masih ada. Tapi setelah melihat keberanian Jaka siang tadi, sesuatu di dalam hati mereka ikut berubah.
Mereka pun berangkat.
Malam itu, rombongan kecil warga Kampung Waringin memasuki hutan jati.
Langkah mereka pelan. Tanah basah membuat sandal sering terpeleset. Suara burung malam terdengar dari kejauhan. Di sela pepohonan, kabut tipis menggantung rendah.
Jaka berjalan di depan bersama Pak Suradi dan Rangga.
Setiap beberapa langkah, mereka menemukan tanda-tanda aneh.
Rumput yang terinjak.
Bekas kaki besar di lumpur.
Lalu bekas tali yang tersangkut di ranting.
“Ini jejak mereka,” bisik Rangga.
Mereka terus mengikuti jejak itu sampai tiba di dekat pohon waringin tua, pohon terbesar di pinggir hutan. Di sanalah mereka melihat cahaya obor.
Darsa Jagal dan anak buahnya sudah memasang jaring besar.
Di tengah tanah lapang, anak singa kecil terjebak di dalam jerat tali. Ia meronta lemah, sementara induknya berdiri beberapa meter dari sana, mengaum marah namun tidak bisa mendekat karena para pemburu mengarahkan tombak dan senapan.
“Bagus…” kata Darsa sambil tersenyum puas. “Induknya pasti tidak akan lari kalau anaknya masih di tangan kita.”
Jaka mengepalkan tangan.
Dadanya panas.
Ia pernah melihat orang menangkap ikan untuk makan. Ia pernah melihat warga menyembelih ayam untuk kebutuhan hidup. Tapi yang ia lihat malam itu berbeda.
Ini bukan kebutuhan.
Ini keserakahan.
Pak Suradi maju dari balik pepohonan.
“Darsa! Hentikan!”
Para pemburu terkejut. Darsa menoleh dengan wajah kesal.
“Kalian lagi?”
Pak Suradi berdiri tegak, meski usianya sudah tua.
“Kami sudah bilang. Jangan ganggu mereka.”
Darsa tertawa sinis.
“Hutan ini bukan milik kalian.”
Jaka maju perlahan.
“Benar. Hutan ini bukan milik kami. Tapi juga bukan milikmu.”
Kalimat itu membuat Darsa terdiam sesaat.
Jaka melanjutkan, suaranya pelan tapi jelas.
“Hutan ini tempat hidup banyak makhluk. Ada burung, kijang, ular, monyet, dan mungkin singa yang dulu kau kurung untuk tontonan. Kalau manusia merasa semua bisa dimiliki hanya karena punya senjata, maka yang buas sebenarnya bukan hewan.”
Warga yang mendengar itu ikut terdiam.
Darsa mengangkat senapannya.
“Kau banyak bicara untuk orang miskin.”
Jaka menatapnya tanpa mundur.
“Miskin harta tidak apa-apa. Yang menakutkan itu miskin hati.”
Wajah Darsa memerah. Ia mengarahkan senapannya ke Jaka.
Namun sebelum ia sempat menarik pelatuk, singa besar itu mengaum keras dan melompat ke samping. Para pemburu panik. Beberapa obor jatuh ke tanah. Api kecil mulai merambat ke daun kering.
“Api!” teriak Rangga.
Dalam sekejap, suasana berubah kacau.
Para pemburu berlarian. Warga berusaha memadamkan api dengan tanah dan ranting basah. Anak singa masih terjebak, merintih ketakutan.
Jaka melihat api semakin dekat ke jerat itu.
Tanpa berpikir panjang, ia berlari.
“Jaka, jangan!” teriak Pak Suradi.
Tapi Jaka sudah menerobos asap.
Matanya perih. Napasnya sesak. Lengannya yang terluka terasa seperti terbakar. Namun ia terus maju sampai tiba di dekat anak singa.
Anak singa itu menggigil, terlalu takut untuk bergerak.
“Tenang… tenang…” bisik Jaka.
Ia membuka ikatan tali dengan tangan gemetar. Talinya kuat dan basah, sulit dilepas. Api semakin dekat. Asap semakin tebal.
Di belakangnya, induk singa meraung-raung, tetapi ia tidak menyerang Jaka. Seolah ia mengerti bahwa lelaki itu sedang menyelamatkan anaknya.
Akhirnya, simpul tali terlepas.
Anak singa itu bebas.
Namun tepat saat Jaka hendak berdiri, sebuah dahan terbakar jatuh dari atas.
Brakk!
Jaka terjatuh.
Kakinya tertimpa ranting besar. Ia mencoba menariknya, tetapi tubuhnya sudah terlalu lemah.
“Jaka!” teriak warga.
Api menjalar semakin dekat.
Anak singa itu berlari ke induknya. Singa besar menatap anaknya sebentar, lalu menatap Jaka yang masih terjebak.
Semua orang mengira singa itu akan pergi.
Karena anaknya sudah selamat.
Karena hutan mulai terbakar.
Karena itulah naluri hewan: menyelamatkan diri.
Namun singa itu tidak pergi.
Ia justru berbalik.
Dengan langkah cepat, singa besar itu menerobos asap dan mendekati Jaka. Warga terkejut bukan main.
Singa itu menggigit bagian baju belakang Jaka dengan sangat hati-hati. Bukan menggigit untuk melukai, melainkan untuk menariknya.
Jaka menahan napas.
Tubuhnya terseret menjauh dari api.
Sedikit demi sedikit.
Sampai akhirnya Pak Suradi dan warga berhasil menarik Jaka keluar dari kepulan asap.
Begitu Jaka aman, singa itu berdiri di depannya.
Tubuhnya terkena abu. Surainya kotor. Napasnya berat. Tapi matanya tetap tenang.
Jaka memandangnya dengan mata berkaca-kaca.
Siang tadi ia menyelamatkan singa itu dari sungai.
Malam ini singa itu menyelamatkannya dari api.
Seolah alam ingin mengajarkan bahwa kebaikan tidak selalu kembali dari arah yang sama, tetapi ia pasti menemukan jalan pulang.
Sementara itu, Darsa dan anak buahnya berusaha kabur. Namun warga sudah mengepung jalan keluar. Rangga berhasil mengambil senapan yang jatuh. Pak Suradi berdiri dengan tongkat bambunya.
“Darsa,” kata Pak Suradi tegas, “mulai malam ini, kau tidak boleh lagi masuk ke hutan ini.”
Darsa menatap tajam.
“Kalian pikir bisa menghentikan saya?”
Pak Suradi menjawab dengan tenang.
“Bukan kami saja. Satu kampung akan menjaga hutan ini. Dan besok pagi, kami laporkan semua perbuatanmu ke pihak berwenang.”
Wajah Darsa pucat.
Tanpa senjata, tanpa anak buah yang berani melawan, ia tak lagi terlihat menakutkan. Ia hanya tampak seperti manusia yang kalah oleh keserakahannya sendiri.
Akhirnya, para pemburu itu pergi dengan tangan kosong.
Api berhasil dipadamkan sebelum membesar. Hutan kembali gelap. Hanya asap tipis yang tersisa, naik perlahan ke langit malam.
Jaka duduk di bawah pohon waringin tua. Warga mengelilinginya. Mbok Sari yang menyusul dari kampung langsung memeluk anaknya sambil menangis.
“Dasar anak nekat…” ucapnya, suaranya bergetar. “Tapi Mbok bangga.”
Jaka tersenyum lelah.
Di hadapan mereka, singa besar dan anaknya berdiri di batas hutan.
Tidak ada lagi ketakutan seperti siang tadi.
Warga tetap menjaga jarak, tetapi tatapan mereka sudah berbeda.
Mereka tidak lagi melihat singa itu hanya sebagai ancaman.
Mereka melihatnya sebagai makhluk hidup yang ingin bebas, ingin melindungi anaknya, dan ingin kembali ke tempat yang semestinya.
Singa besar itu melangkah mendekati Jaka untuk terakhir kalinya.
Ia menundukkan kepala.
Anak singa kecil ikut berdiri di samping induknya.
Jaka mengangkat tangan perlahan, lalu menyentuh surai singa itu dengan lembut.
“Pergilah,” bisik Jaka. “Hiduplah bebas. Jangan kembali ke tangan orang jahat.”
Singa itu menatapnya lama.
Lalu ia mengaum pelan.
Bukan auman yang menakutkan.
Melainkan auman yang terdengar seperti salam perpisahan.
Setelah itu, singa besar itu berbalik dan berjalan masuk ke dalam hutan bersama anaknya. Bayangan mereka menghilang di antara pepohonan, ditelan gelap malam.
Sejak hari itu, warga Kampung Waringin berubah.
Mereka tidak lagi menebang pohon sembarangan.
Tidak lagi membuang sampah ke sungai.
Tidak lagi menganggap hutan sebagai tempat asing yang boleh dirusak sesuka hati.
Di bawah pohon waringin tua, Pak Suradi memasang papan kayu sederhana bertuliskan:
“Siapa menjaga alam, ia sedang menjaga hidupnya sendiri.”
Jaka pun kembali menjadi penjala ikan seperti biasa.
Ia tetap sederhana. Tetap pendiam. Tetap tinggal di rumah bambu bersama ibunya.
Namun setiap kali ia melewati Sungai Citarik, ia selalu teringat hari ketika seekor singa hampir tenggelam, lalu mengajarkannya sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan dari siapa pun.
Bahwa keberanian bukan berarti tidak takut.
Keberanian adalah tetap melakukan kebaikan meski rasa takut sedang berdiri tepat di depan mata.
Bahwa menolong tidak perlu menunggu kaya, kuat, atau sempurna.
Kadang, satu hati yang tulus sudah cukup untuk mengubah banyak orang.
Dan yang paling penting…
Jangan pernah meremehkan kebaikan kecil.
Sebab kebaikan yang kita lempar ke dunia, suatu hari bisa kembali dalam bentuk yang tidak pernah kita duga.
Bisa lewat tangan manusia.
Bisa lewat doa seorang ibu.
Bisa lewat alam yang dijaga.
Atau bahkan…
Lewat seekor singa yang pernah kita selamatkan dari sungai.









