Cerpen: Ia Diusir, Lalu Desa Itu Tenggelam

Bacatimes

PART 1 — DIUSIR SEBELUM BADAI DATANG

Di sebuah kampung kecil di lereng pegunungan Sulawesi, hiduplah seorang anak perempuan bernama Ningsih.

Usianya baru 14 tahun, tetapi hidup sudah terlalu sering memperlakukannya seperti orang dewasa. Ibunya, Bu Ratmi, meninggal saat Ningsih masih kecil. Sejak hari itu, rumah yang dulu hangat berubah jadi tempat paling dingin baginya.

Ayahnya, Pak Jatmiko, bukan lagi lelaki yang dulu sering menggendongnya ke sawah. Ia berubah keras, pemarah, dan lebih sering pulang dengan bau tuak daripada membawa kabar baik.

Orang-orang kampung juga tidak banyak berbeda.

Mereka menyebut Ningsih “anak aneh”.

Bukan karena ia nakal. Bukan karena ia jahat.

Tapi karena Ningsih terlalu sering memperhatikan hal-hal yang orang lain abaikan.

Ia tahu kapan semut mulai memindahkan telur-telurnya. Ia tahu kapan burung-burung meninggalkan pohon lebih cepat dari biasanya. Ia tahu bau tanah yang berubah sebelum hujan besar datang.

Dan sore itu, Ningsih melihat tanda yang membuat dadanya sesak.

Air sungai di bawah kampung tiba-tiba menyusut. Padahal semalam hujan deras. Ayam-ayam tidak mau masuk kandang. Anjing-anjing menggonggong ke arah hutan, lalu bersembunyi di kolong rumah.

Langit juga aneh.

Gelap, tapi bukan seperti mendung biasa.

Seperti menyimpan sesuatu yang marah.

Ningsih berlari ke balai kampung. Di sana, warga sedang berkumpul. Ada yang menimbang hasil kebun, ada yang mengobrol, ada yang tertawa sambil minum kopi.

“Pak! Bu! Kita harus bersiap!” teriak Ningsih dengan napas terputus-putus.

Semua mata menoleh.

“Badai besar mau datang. Mungkin longsor juga. Kita harus pindah ke tempat tinggi. Sekarang!”

Suasana sempat hening.

Lalu tawa pecah.

“Lah, si Ningsih kumat lagi.”

“Anak kecil sok tahu.”

“Makanya jangan kebanyakan melamun di hutan.”

Ningsih menahan air mata.

“Aku tidak mengarang. Burung-burung sudah pergi. Sungai turun. Tanah baunya beda. Ini tanda bahaya!”

Dari belakang kerumunan, terdengar suara berat.

“Ningsih!”

Pak Jatmiko datang dengan wajah merah dan mata menyala. Ia menarik tangan anaknya kasar.

“Kamu mau bikin malu Bapak di depan orang sekampung?”

“Aku cuma mau mereka selamat, Pak…”

Pak Jatmiko menatapnya tajam.

“Kalau kamu masih mau jadi anakku, berhenti bicara seperti orang tidak waras.”

Ningsih terdiam. Seluruh kampung menonton. Tak ada satu pun yang membelanya.

Dengan suara gemetar, ia berkata, “Kalau Bapak tidak percaya sekarang… nanti bisa terlambat.”

Tamparan itu mendarat cepat.

Pipi Ningsih panas. Tapi yang lebih sakit bukan wajahnya.

Melainkan hatinya.

Pak Jatmiko menunjuk jalan keluar kampung.

“Pergi. Kalau kamu merasa paling benar, selamatkan dirimu sendiri.”

Malam itu, Ningsih pergi tanpa diantar siapa pun.

Ia hanya membawa kain peninggalan ibunya, pisau kecil, singkong rebus, dan doa yang hampir putus.

Di ujung kampung, ia menoleh sekali.

Rumah-rumah masih menyala. Orang-orang masih tertawa.

Mereka tidak tahu…

tiga malam lagi, kampung itu mungkin tidak akan ada lagi.

Dan di tengah gelap hutan bambu, Ningsih mulai menggali tanah dengan kedua tangannya sendiri.

 

PART 2 — LUBANG DI BAWAH RUMPUN BAMBU

Malam pertama di hutan, Ningsih tidak benar-benar tidur.

Setiap kali matanya hampir terpejam, suara ranting patah membuatnya terbangun. Angin dari sela-sela bambu terdengar seperti orang berbisik. Perutnya lapar, tubuhnya menggigil, tapi ia tidak berani kembali.

Bukan karena tidak rindu rumah.

Ia rindu.

Sangat rindu.

Tapi ia lebih takut pulang hanya untuk ditertawakan lagi.

Menjelang pagi, Ningsih menemukan rumpun bambu tua di dekat tebing kecil. Tempat itu dulu pernah ditunjukkan ibunya.

“Kalau hidup sedang keras,” kata ibunya waktu itu, “jangan selalu cari tempat yang ramai. Kadang yang sepi justru menyelamatkan.”

Ningsih menatap akar-akar bambu yang menjulur kuat ke tanah. Di bawahnya ada rongga kecil, cukup untuk bersembunyi dari hujan.

Ia mengambil pisau kecilnya, lalu mulai menggali.

Tanahnya keras. Tangannya lecet. Kukunya patah. Tapi ia terus menggali, sedikit demi sedikit.

Setiap genggam tanah yang ia keluarkan terasa seperti membuang rasa sakit dari dadanya.

Ia menggali sambil menangis pelan.

Bukan karena takut mati.

Tapi karena ia sadar, di usia 14 tahun, ia harus membangun tempat berlindung sendiri… sementara orang-orang yang seharusnya menjaga justru mengusirnya.

Hari kedua, hujan gerimis turun. Ningsih mencari daun pisang kering untuk menutup lubang. Ia mengumpulkan bambu kecil, akar, dan ranting untuk memperkuat bagian atas.

Makanannya tinggal sedikit.

Singkong rebus yang ia bawa sudah keras. Ia makan pelan-pelan, sepotong kecil setiap kali perutnya perih.

“Aku harus hidup,” bisiknya.

Bukan untuk membalas siapa-siapa.

Tapi untuk membuktikan bahwa suara kecil juga pantas didengar.

Menjelang sore, dari kejauhan ia mendengar kentongan dipukul.

Tuk… tuk… tuk…

Suara itu datang dari arah kampung.

Ningsih langsung berdiri.

“Mereka akhirnya percaya?” gumamnya.

Namun tak lama kemudian, suara tawa samar terdengar terbawa angin. Rupanya warga sedang ronda biasa. Mungkin sambil bercanda tentang dirinya.

Ningsih menggigit bibir.

Dadanya sakit, tapi ia kembali menggali.

Malam ketiga, langit berubah pekat.

Tidak ada bintang.

Tidak ada suara jangkrik.

Bahkan hutan yang biasanya hidup, kini diam seperti menahan napas.

Ningsih keluar dari lubang. Ia menatap ke arah kampung di bawah bukit. Lampu-lampu rumah masih menyala kecil. Orang-orang mungkin sedang makan malam, mungkin sedang mengunci pintu, mungkin masih menganggap semuanya baik-baik saja.

Lalu angin pertama datang.

Dingin.

Tajam.

Membawa bau tanah basah dan akar yang tercabut.

Ningsih mundur perlahan.

Setetes hujan jatuh di pipinya.

Lalu satu lagi.

Dalam hitungan detik, langit seperti robek.

Hujan turun menggila.

Angin menghantam bambu sampai melengkung. Daun-daun beterbangan. Dari kejauhan terdengar suara tanah bergemuruh seperti ribuan drum dipukul bersamaan.

Ningsih masuk ke dalam lubangnya dan menutup pintu dengan tumpukan daun serta ranting.

Ia memeluk kain peninggalan ibunya.

“Bu… kalau Ningsih salah, maafkan Ningsih. Tapi kalau Ningsih benar… tolong kuatkan.”

Tiba-tiba terdengar suara besar dari arah kampung.

GROOOOHHH!

Tanah bergetar.

Lubang kecil itu ikut berguncang.

Ningsih menahan napas.

Lalu dari atas kepalanya…

krek… krek…

Akar bambu mulai retak.

Tanah basah runtuh sedikit demi sedikit ke wajahnya.

Dan saat air mulai masuk ke dalam lubang, Ningsih sadar—

tempat yang ia kira akan menyelamatkannya…

mungkin justru akan menguburnya hidup-hidup.

 

PART 3 — SAAT BADAI REDA

Air masuk semakin deras ke dalam lubang itu.

Ningsih merangkak mundur, tetapi punggungnya sudah menabrak dinding tanah. Napasnya pendek. Tangannya gemetar. Di atas kepalanya, akar bambu yang tadi ia percaya sebagai pelindung mulai berbunyi patah.

Krek… krek…

“Nggak… jangan sekarang,” bisiknya.

Ia menekan kain peninggalan ibunya ke dada. Dalam gelap, ia teringat suara ibunya dulu.

“Kalau kamu takut, Ning, jangan diam saja. Cari jalan. Sekecil apa pun.”

Ningsih membuka mata.

Di sisi kanan lubang, ada celah kecil yang belum selesai ia gali. Tanahnya basah, tapi masih bisa ditembus. Dengan sisa tenaga, ia mulai mencakar dinding tanah itu.

Kukunya patah. Jarinya berdarah. Air sudah mencapai lututnya.

Tapi Ningsih tidak berhenti.

“Aku harus hidup…”

Sekali lagi ia mencakar.

“Aku harus hidup…”

Tanah runtuh sedikit.

“Aku harus hidup…”

Akhirnya, celah itu terbuka.

Angin dingin langsung menerpa wajahnya. Di luar, badai masih mengamuk. Pohon tumbang, batu berguling, air mengalir deras dari arah kampung.

Ningsih keluar sambil merangkak. Tubuhnya hampir terseret arus, tetapi tangannya berhasil meraih akar bambu besar.

Ia memanjat pelan-pelan.

Setiap naik satu langkah, kakinya terpeleset. Setiap ia hampir jatuh, ia menggigit bibir dan memaksa tubuhnya bergerak lagi.

Sampai akhirnya ia sampai di batu besar di atas bukit.

Di sanalah ia pingsan.


Pagi datang dengan sunyi yang aneh.

Tidak ada ayam berkokok.

Tidak ada suara ibu-ibu menumbuk bumbu.

Tidak ada anak-anak berlari ke sungai.

Ningsih membuka mata perlahan. Tubuhnya sakit semua. Tapi ia masih hidup.

Ia berdiri dengan gemetar, lalu melihat ke bawah.

Dan seketika dadanya seperti dihantam batu.

Kampungnya hilang.

Rumah-rumah tertimbun lumpur. Pohon-pohon tumbang. Jalan setapak lenyap. Balai kampung yang kemarin dipenuhi tawa kini rata dengan tanah.

Ningsih jatuh terduduk.

Ia benar.

Tapi kebenaran itu datang dengan harga yang terlalu mahal.

Ia menangis sejadi-jadinya. Bukan karena dendam. Bukan karena ingin berkata, “Aku sudah bilang.”

Tapi karena di antara semua orang yang pernah menyakitinya… tetap ada wajah-wajah yang ia kenal sejak kecil.

Tetap ada ayahnya.


Tiga hari kemudian, tim penyelamat dari kota menemukan Ningsih di dekat rumpun bambu. Kurus, lemah, penuh luka, tapi hidup.

Saat petugas bertanya bagaimana ia bisa selamat, Ningsih hanya menjawab lirih,

“Saya cuma memperhatikan tanda-tanda alam.”

Berita tentang Ningsih menyebar ke mana-mana. Banyak orang menyebutnya anak ajaib. Ada yang menyebutnya anak kuat. Ada juga yang menangis karena menyesal pernah menertawakannya.

Tetapi Ningsih tidak pernah merasa hebat.

Ia hanya merasa diberi kesempatan kedua.

Bertahun-tahun kemudian, Ningsih tumbuh menjadi perempuan yang membantu desa-desa rawan bencana. Ia mengajari anak-anak membaca tanda alam, mengajari warga menyimpan bekal darurat, dan mengingatkan orang dewasa agar tidak meremehkan suara kecil hanya karena datang dari anak kecil.

Suatu hari, seorang murid bertanya,

“Kak Ningsih, kenapa Kakak masih mau membantu orang lain, padahal dulu orang-orang tidak percaya?”

Ningsih tersenyum pelan.

“Karena kalau kita pernah tidak didengar, jangan sampai kita ikut menjadi orang yang tidak mau mendengar.”

Ia menatap bukit jauh di depan sana.

Tempat masa kecilnya terkubur bersama hujan.

Lalu berkata pelan,

“Kadang hidup tidak menyelamatkan kita dari luka. Tapi hidup memberi kita pilihan: mau menjadi pahit karena luka itu, atau menjadi cahaya untuk orang lain.”

Dan sejak hari itu, Ningsih tidak lagi dikenal sebagai anak aneh.

Ia dikenal sebagai pengingat.

Bahwa alam sering memberi tanda sebelum murka.

Bahwa anak kecil pun bisa membawa kebenaran.

Dan bahwa rumah yang sesungguhnya bukan selalu tempat kita dilahirkan…

melainkan tempat di mana suara kita akhirnya didengar.

Also Read

Tags

Leave a Comment