Aku Pulang sebagai Orang Gila… dan Mereka Menunjukkan Wajah Aslinya

Bacatimes

PART 1

Aku Pulang dari Australia Sebagai Orang Gila

Lima tahun aku hidup di Australia.

Dulu aku pergi hanya membawa satu koper kecil dan janji kepada keluargaku.

“Raka, jangan pulang sebelum sukses,” kata ibuku, Bu Marlina, saat melepas kepergianku.

Aku mengangguk.
Aku percaya, semua perjuanganku nanti akan berarti untuk mereka.

Di Australia, hidupku tidak mudah. Aku pernah tidur di kamar sempit, kerja membersihkan restoran, makan seadanya, sampai jatuh sakit sendirian. Tapi aku bertahan.

Pelan-pelan, usaha teknologi kecil yang kubangun mulai berkembang. Dari satu klien, menjadi puluhan. Dari bisnis kecil, berubah menjadi perusahaan besar.

Lima tahun kemudian, aku bukan lagi Raka yang dulu.

Aku sudah punya segalanya.

Uang. Aset. Perusahaan. Rumah megah di Indonesia yang kubeli untuk ibuku.

Tapi satu hal mulai mengganggu pikiranku.

Apakah keluargaku benar-benar mencintaiku?

Atau hanya mencintai uang yang kukirim setiap bulan?


Pertanyaan itu muncul setelah suatu malam aku tidak sengaja mendengar percakapan ibuku dan adikku, Kevin.

Saat itu panggilan telepon belum terputus.

“Raka sudah transfer lagi, Bu?” tanya Kevin.

“Belum. Katanya nanti,” jawab Ibu.

Kevin mendengus.

“Orang katanya sukses di Australia, tapi kalau diminta uang lama banget.”

Aku terdiam.

Lalu suara Ibu terdengar lagi.

“Makanya kalau dia pulang nanti, asetnya harus jelas. Jangan sampai semuanya dikuasai Nadia.”

Nadia.

Istriku.

Perempuan yang selama lima tahun tidak pernah meminta apa pun selain satu pertanyaan sederhana:
“Mas sudah makan?”

Tanganku gemetar memegang ponsel.

Malam itu aku sadar, mungkin mereka tidak menunggu kepulanganku.

Mereka menunggu hartaku.


Akhirnya aku membuat keputusan gila.

Aku akan pulang.

Tapi bukan sebagai pengusaha sukses dari Australia.

Aku akan pulang sebagai laki-laki kumal, lusuh, dan terlihat kehilangan akal.

Aku ingin melihat siapa yang benar-benar tulus menerimaku saat aku tampak tidak punya apa-apa.

Dan siapa yang akan membuangku saat mengira aku sudah hancur.


Sore itu, aku berdiri di depan rumah megah yang dulu kubeli dengan uangku sendiri.

Gerbang hitam tinggi. Halaman luas. Mobil Kevin terparkir di depan.

Aku memakai kemeja robek, celana kotor, rambut acak-acakan, dan wajah penuh debu.

Aku mengetuk pagar.

Kevin keluar lebih dulu.

Matanya membesar saat mengenaliku.

“Bang Raka?”

Aku tertawa kecil seperti orang linglung.

“Hehehe… Kevin… aku pulang…”

Wajah Kevin langsung berubah. Bukan bahagia. Bukan haru.

Tapi malu.

Tak lama kemudian, ibuku keluar dari dalam rumah.

Ia menatapku dari ujung kepala sampai kaki, lalu menutup hidungnya dengan selendang.

“Astagfirullah… kamu pulang jadi apa?”

Aku menatapnya dengan mata kosong yang sengaja kubuat.

“Ibu… Raka lapar…”

Bukannya memelukku, Ibu justru menunjuk ke arah pagar.

“Jangan masuk!”

Dadaku terasa seperti diremas.

“Bu… ini aku…”

“Anakku bukan orang gila seperti kamu!” bentaknya.
“Lima tahun di Australia katanya mau sukses, pulangnya malah jadi beban keluarga!”

Kevin menunduk, lalu berkata pelan.

“Bang, lebih baik pergi dulu. Tetangga bisa lihat.”

Aku hampir tertawa.

Ternyata benar.

Mereka tidak takut aku terluka.
Mereka hanya takut malu.


Saat itulah Nadia datang.

Kantong belanja di tangannya jatuh ke tanah saat melihatku.

“Mas Raka…”

Ia berlari ke arahku, berlutut di depanku, lalu memegang wajahku yang kotor dengan kedua tangannya.

“Ya Allah, Mas… kamu kenapa?”

Aku masih berpura-pura.

“Nadia… cantik… hehehe…”

Air matanya langsung jatuh.

Tanpa jijik, tanpa ragu, ia memelukku erat.

“Mas pulang… Mas benar-benar pulang…”

Untuk sesaat, aku hampir membuka penyamaranku.

Tapi suara Ibu kembali menghantam.

“Nadia! Seret suamimu yang gila itu keluar dari halaman rumahku sekarang juga!”

Nadia menoleh dengan wajah basah.

“Bu, ini Mas Raka. Anak Ibu sendiri.”

“Anakku bukan gembel gila!” teriak Ibu.
“Bawa dia pergi! Mulai hari ini, aku tidak punya anak bernama Raka!”

Kalimat itu menghancurkan dadaku.

Kevin ikut bicara.

“Mbak Nadia, bawa saja Bang Raka. Kami tidak mau nama keluarga rusak gara-gara dia.”

Nadia berdiri pelan.

Tubuhnya gemetar.

Tapi tangannya tetap menggenggam tanganku.

“Kalau Ibu dan Kevin tidak mau menerima Mas Raka…”

Ia menghapus air matanya.

“Biar saya yang merawat suami saya.”

Ibu mencibir.

“Silakan. Hidup saja dengan orang gila itu.”

Nadia tidak menjawab.

Ia memapahku pergi dari rumah megah itu.

Rumah yang sebenarnya milikku.


Malam itu, Nadia membawaku ke rumah kecil peninggalan ayahnya.

Rumahnya sederhana. Dindingnya kusam. Atapnya bocor.

Tapi untuk pertama kalinya hari itu, aku merasa diterima.

Nadia menyiapkan air hangat, lalu membersihkan wajahku perlahan.

“Mas jangan takut,” katanya sambil menangis.
“Aku akan kerja apa saja. Jadi buruh cuci juga nggak apa-apa. Yang penting Mas tetap hidup.”

Aku menatapnya diam-diam.

Wanita ini…

Saat semua orang membuangku, ia justru memilih tinggal.

Saat semua orang mengira aku tidak punya apa-apa, ia tetap memelukku.

Lalu ponsel yang kusembunyikan di balik celana bergetar pelan.

Pesan dari pengacaraku masuk.

“Pak Raka, semua dokumen aset sudah siap. Rumah besar, mobil, dan seluruh kepemilikan bisa Bapak ambil kembali kapan saja.”

Aku membaca pesan itu dalam diam.

Di depanku, Nadia masih menangis sambil menggenggam tanganku.

Di kejauhan, rumah megah itu masih berdiri terang.

Aku tersenyum tipis.

Bukan senyum orang gila.

Tapi senyum seorang pria yang akhirnya tahu siapa yang pantas dipertahankan…

dan siapa yang harus kehilangan segalanya.

Bersambung ke Part 2…

PART 2

Saat Topeng Orang Gila Itu Terbuka

Malam semakin larut.

Hujan turun pelan di atap rumah tua peninggalan ayah Nadia. Di sudut ruangan, air menetes dari atap bocor ke dalam ember plastik.

Nadia duduk di depanku dengan mata sembab.

Tangannya masih menggenggam tanganku, seolah takut aku akan pergi lagi.

“Mas… lapar?” tanyanya pelan.

Aku hanya mengangguk kecil, masih memainkan peranku sebagai orang linglung.

Nadia segera bangkit ke dapur. Beberapa menit kemudian, ia kembali membawa sepiring nasi hangat dan telur dadar tipis.

“Maaf ya, Mas. Cuma ada ini.”

Ia menyuapiku perlahan.

Setiap suapan terasa menyesakkan.

Bukan karena makanannya.

Tapi karena aku tahu, perempuan ini benar-benar siap hidup susah bersamaku.

Ia tidak tahu aku masih punya perusahaan di Australia.
Ia tidak tahu rumah megah itu masih atas namaku.
Ia tidak tahu mobil Kevin, perhiasan Ibu, dan semua kemewahan mereka berasal dari uangku.

Yang Nadia tahu hanya satu:

suaminya pulang dalam keadaan hancur.

Dan ia tetap memilih tinggal.


Saat Nadia hendak menyuapiku lagi, aku menahan tangannya.

Ia terkejut.

“Mas?”

Aku menatap matanya.

Kali ini bukan dengan tatapan kosong.

Bukan tatapan orang kehilangan akal.

Tapi tatapan seorang laki-laki yang sudah terlalu lama menahan luka.

“Nadia…”

Tubuh Nadia langsung kaku.

Sendok di tangannya jatuh ke lantai.

“Mas…?”

Aku menghapus air mata di pipinya.

“Aku tidak gila.”

Nadia mundur setengah langkah.

Wajahnya pucat.

“Mas… dari tadi… Mas sadar?”

Aku mengangguk pelan.

Air mata Nadia kembali jatuh, tapi kali ini bercampur marah dan lega.

“Kenapa, Mas?” suaranya pecah.
“Kenapa harus begini? Aku benar-benar takut…”

Aku menunduk.

Untuk pertama kalinya malam itu, aku merasa bersalah.

“Maafkan aku, Nad.”

Aku menarik napas panjang.

“Aku mendengar Ibu dan Kevin bicara saat aku masih di Australia. Mereka membicarakan hartaku. Mereka takut semua asetku jatuh ke tanganmu.”

Nadia terdiam.

“Aku ingin tahu,” lanjutku pelan, “kalau aku pulang tanpa apa-apa, siapa yang masih menganggapku manusia.”

Aku menatapnya dalam-dalam.

“Dan hari ini aku tahu jawabannya.”

Nadia menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Mas jahat…”

Aku diam.

“Mas bikin aku hampir mati ketakutan…”

Ia memukul dadaku pelan.

Aku tidak menghindar.

Karena aku memang pantas menerimanya.

Tapi beberapa detik kemudian, pukulannya melemah.

Nadia justru memelukku erat.

“Jangan pernah lakukan ini lagi…”

Aku membalas pelukannya.

“Aku janji.”


Pagi harinya, aku membersihkan diri.

Baju lusuh itu kulepas. Debu di wajahku kubasuh. Rambutku kurapikan.

Nadia menatapku dari pintu kamar kecil.

Seolah baru melihatku lagi setelah sekian lama.

“Jadi… Mas benar-benar sukses di Australia?” tanyanya lirih.

Aku tersenyum tipis.

“Cukup sukses untuk mengambil kembali semua yang mereka pakai untuk merendahkan kita.”

Belum sempat Nadia menjawab, suara mobil berhenti di depan rumah.

Seorang pria berjas turun membawa map coklat.

Namanya Pak Arman, pengacaraku.

Ia masuk, lalu menunduk hormat.

“Selamat pagi, Pak Raka. Semua dokumen sudah siap.”

Nadia terdiam mendengar panggilan itu.

Pak Raka.

Bukan Raka yang gila.
Bukan Raka yang gagal.
Tapi Raka yang selama ini disembunyikan.

Pak Arman membuka map di atas meja.

“Rumah besar masih atas nama Bapak. Mobil yang dipakai Saudara Kevin juga atas nama Bapak. Semua bukti transfer dan aset keluarga sudah kami susun lengkap.”

Aku menatap satu per satu dokumen itu.

Luka semalam kembali terasa.

“Berapa lama mereka bisa mengosongkan rumah?” tanyaku dingin.

“Tiga hari, Pak.”

Nadia langsung menatapku.

“Mas…”

Aku tahu tatapan itu.

Tatapan seorang istri yang tidak ingin suaminya berubah menjadi pendendam.

Aku menggenggam tangannya.

“Aku tidak akan menyakiti mereka, Nad.”

Aku menatap dokumen itu lagi.

“Tapi mereka juga tidak boleh terus menikmati rumah yang mereka gunakan untuk mengusir pemiliknya sendiri.”

Nadia menunduk.

Ia tidak membantah.

Karena ia tahu, kali ini aku benar.


Siang itu juga, surat pemberitahuan dikirim ke rumah megah.

Dan sore harinya, seperti yang sudah kuduga, mereka datang.

Bu Marlina dan Kevin berdiri di depan rumah kecil Nadia dengan wajah pucat.

Tidak ada lagi wajah jijik.

Tidak ada lagi suara tinggi.

Tidak ada lagi kata-kata hinaan.

Yang ada hanya ketakutan.

“Raka…” suara Ibu bergetar.

Aku berdiri di depan pintu.

Rapi.

Sadar.

Utuh.

Mata Ibu membesar.

Kevin bahkan mundur satu langkah.

“Bang… kamu… kamu nggak gila?” tanya Kevin terbata.

Aku tersenyum dingin.

“Kenapa? Lebih mudah membuangku saat kalian mengira aku gila?”

Kevin menunduk.

Bu Marlina mulai menangis.

“Nak… Ibu salah. Ibu khilaf. Ibu cuma kaget melihat keadaanmu kemarin.”

Aku menatapnya tanpa berkedip.

“Kaget?”

Suaraku rendah.

“Kemarin Ibu bilang tidak punya anak bernama Raka.”

Tangis Ibu semakin pecah.

“Ibu panik, Nak…”

“Tidak, Bu.”

Aku melangkah mendekat.

“Ibu tidak panik. Ibu malu.”

Ibu terdiam.

“Ibu malu karena mengira aku miskin. Sekarang Ibu menangis karena tahu aku masih punya semuanya.”

Kevin ikut maju.

“Bang, maafin aku. Aku cuma ikut emosi…”

Aku menatap adikku.

“Waktu aku duduk di tanah, kamu tidak melihat kakakmu.”

Kevin membeku.

“Kamu melihat aib.”

Ia menangis.

“Bang…”

“Jangan panggil aku Bang.”

Kalimat itu membuatnya terdiam total.


Bu Marlina tiba-tiba berlutut.

“Raka, Ibu mohon. Jangan ambil rumah itu. Ibu sudah tua. Ibu mau tinggal di mana?”

Aku menatap perempuan yang melahirkanku.

Dulu, satu air matanya cukup untuk membuatku luluh.

Tapi sekarang, aku tidak tahu air mata itu untukku…

atau untuk rumah besar yang akan hilang dari tangannya.

“Rumah itu milikku, Bu,” kataku pelan.

“Ibu tahu…”

“Mobil Kevin juga milikku.”

Kevin menunduk semakin dalam.

“Semua yang kalian banggakan selama ini berasal dari uangku.”

Tak ada yang menjawab.

Nadia berdiri di sampingku.

Wajahnya lembut, tapi matanya tegas.

“Mas…” bisiknya.

Aku menoleh.

Ia menggenggam tanganku.

“Jangan biarkan mereka tinggal di jalan.”

Aku terdiam.

“Nadia,” kataku pelan, “mereka menghina kamu.”

“Aku tahu.”

“Mereka mengusir kita.”

“Aku tahu.”

“Mereka tidak pantas kamu kasihani.”

Nadia menarik napas panjang.

“Mungkin mereka tidak pantas. Tapi kita juga tidak perlu menjadi sekejam mereka.”

Bu Marlina menatap Nadia dengan mata penuh harap.

“Nadia… maafkan Ibu…”

Nadia menatapnya cukup lama.

Lalu ia berkata pelan.

“Saya memaafkan Ibu.”

Bu Marlina menangis lega.

Namun Nadia melanjutkan.

“Tapi memaafkan bukan berarti semuanya bisa kembali seperti dulu.”

Wajah Ibu langsung berubah.

Nadia menatapnya tanpa kebencian.

“Ibu sudah menghancurkan batas yang seharusnya tidak pernah Ibu lewati.”

Suasana mendadak sunyi.

Aku menatap Nadia dengan bangga.

Ia baik.

Tapi tidak bodoh.


Aku akhirnya bicara.

“Ibu. Kevin.”

Mereka menatapku.

“Aku akan ambil kembali rumah besar itu.”

Bu Marlina kembali menangis.

“Tapi aku tidak akan membiarkan kalian tidur di jalan.”

Kevin mengangkat wajahnya.

“Aku akan sediakan rumah kecil yang layak untuk kalian tinggal.”

Ibu menutup mulutnya.

“Terima kasih, Nak…”

Aku mengangkat tangan, menghentikannya.

“Tapi ada satu syarat.”

Mereka terdiam.

Aku menatap mereka bergantian.

“Setelah kalian pindah ke rumah itu…”

Aku menggenggam tangan Nadia lebih erat.

“Jangan pernah hubungi aku, Nadia, atau keluarga kami lagi.”

Wajah Ibu pucat.

“Raka…”

“Tidak ada kunjungan. Tidak ada telepon. Tidak ada pesan. Tidak ada alasan.”

Kevin menggeleng panik.

“Bang, jangan sampai segitunya…”

Aku menatapnya tajam.

“Kemarin kalian sudah memilih.”

Suasana membeku.

Bu Marlina jatuh terduduk, menangis tanpa suara.

Nadia menunduk, matanya ikut berkaca-kaca.

Aku tahu hatinya berat.

Tapi keputusan itu harus dibuat.

Karena ada luka yang bisa dimaafkan…

namun tidak boleh diberi jalan untuk melukai lagi.


Malam itu, setelah Bu Marlina dan Kevin pergi, Nadia duduk diam di teras rumah kecil.

Aku duduk di sampingnya.

“Kamu marah karena aku memberi syarat itu?” tanyaku.

Nadia menggeleng pelan.

“Tidak, Mas.”

Ia menatap langit yang mulai gelap.

“Aku cuma sedih.”

“Karena mereka?”

“Karena ternyata keluarga bisa sehancur itu ketika diuji oleh harta.”

Aku diam.

Beberapa saat kemudian, ponselku bergetar.

Pesan dari Pak Arman masuk.

“Pak Raka, ada hal penting. Kami menemukan transaksi besar dari rekening keluarga yang mencurigakan. Sepertinya Saudara Kevin pernah mencoba mengalihkan sebagian aset tanpa sepengetahuan Bapak.”

Mataku menyipit.

Nadia menoleh.

“Mas… ada apa?”

Aku menatap layar ponsel itu lama.

Ternyata pengkhianatan mereka belum selesai.

Dan kali ini…

aku tidak yakin Nadia akan sanggup memaafkan.

Bersambung ke Part 3…

PART 3

Bantuan Terakhir untuk Orang yang Pernah Membuangku

Pesan dari Pak Arman membuat dadaku panas.

“Pak Raka, kami menemukan transaksi mencurigakan. Saudara Kevin pernah mencoba mengalihkan sebagian aset tanpa sepengetahuan Bapak.”

Aku membaca pesan itu berulang kali.

Nadia menatapku cemas.

“Mas… ada apa?”

Aku tidak langsung menjawab.

Aku kira penghinaan kemarin sudah cukup menunjukkan wajah asli mereka.
Aku kira mereka hanya serakah karena takut kehilangan kenyamanan.

Ternyata lebih dari itu.

Kevin tidak hanya menikmati hartaku.

Ia pernah mencoba mengambilnya.


Keesokan paginya, Pak Arman datang membawa beberapa dokumen.

“Ini bukti-buktinya, Pak,” katanya sambil membuka map.

Ada tanda tangan palsu.
Ada upaya pengajuan perubahan nama aset.
Ada komunikasi dengan pihak tertentu agar salah satu properti bisa dialihkan.

Semua tertulis jelas.

Nama Kevin ada di sana.

Tanganku mengepal.

“Sejak kapan ini terjadi?”

“Sekitar enam bulan lalu, Pak,” jawab Pak Arman. “Saat Bapak masih di Australia.”

Aku tertawa kecil.

Pahit.

Jadi selama aku bekerja siang malam di negeri orang, adikku bukan hanya menunggu kiriman uang.

Ia sedang mencari cara mengambil milikku.

Nadia menutup mulutnya.

Matanya berkaca-kaca.

“Mas… Kevin sampai begitu?”

Aku mengangguk pelan.

“Sepertinya selama ini aku terlalu percaya.”


Sore itu, aku memanggil Bu Marlina dan Kevin ke rumah kecil Nadia.

Mereka datang dengan wajah takut.

Kevin bahkan tidak berani menatapku.

Aku meletakkan semua dokumen di meja.

“Apa ini?”

Kevin pucat.

“Bang… aku bisa jelaskan…”

“Jangan panggil aku Bang.”

Ia langsung terdiam.

Bu Marlina mengambil salah satu dokumen dengan tangan gemetar.

“Apa ini, Vin?”

Kevin menunduk semakin dalam.

“Aku cuma… aku cuma takut kalau suatu hari Bang Raka pulang dan semuanya diambil…”

Aku menatapnya dingin.

“Jadi sebelum aku mengambil milikku sendiri, kamu ingin mencurinya dulu?”

Kevin menangis.

“Aku khilaf…”

“Khilaf itu sekali,” kataku pelan. “Ini rencana.”

Ruangan mendadak sunyi.

Bu Marlina terduduk lemas.

“Kevin… kamu benar-benar melakukan ini?”

Kevin tidak menjawab.

Dan diamnya sudah cukup menjadi pengakuan.


Aku berdiri.

“Seharusnya aku bisa membawa ini ke jalur hukum.”

Kevin langsung berlutut.

“Jangan, Bang! Aku mohon! Hidupku bisa hancur!”

Aku menatapnya tanpa rasa iba.

“Hidupku juga kalian hancurkan kemarin. Tapi kalian tidak peduli.”

Kevin menangis semakin keras.

Bu Marlina ikut memohon.

“Raka, Ibu mohon… jangan penjarakan adikmu.”

Aku menatap Ibu lama.

“Lucu ya, Bu.”

Ibu terdiam.

“Kemarin saat Ibu mengusirku, Ibu tidak ingat aku anak Ibu. Tapi sekarang saat Kevin terancam, Ibu ingat dia anak Ibu.”

Air mata Ibu jatuh.

Ia tidak bisa membantah.


Nadia yang sejak tadi diam akhirnya maju.

Wajahnya sedih, tapi suaranya lembut.

“Mas…”

Aku menoleh.

“Jangan karena mereka, hati Mas ikut rusak.”

Aku menarik napas panjang.

“Nad, dia mencoba mencuri asetku.”

“Aku tahu.”

“Mereka menghina kamu.”

“Aku tahu.”

“Mereka mengusir kita.”

“Aku tahu, Mas.”

Nadia menggenggam tanganku.

“Tapi cukup sampai di sini. Jangan bawa kebencian ini ke masa depan kita.”

Aku terdiam.

Wanita itu masih sama.

Terlalu baik untuk dunia yang sering kejam.

Namun kali ini, aku juga tahu satu hal.

Memaafkan bukan berarti membiarkan orang yang sama menghancurkan hidup kita lagi.


Aku kembali duduk.

“Baik.”

Kevin mengangkat wajahnya, penuh harap.

“Aku tidak akan melaporkanmu ke polisi.”

Kevin menangis lega.

“Tapi jangan salah paham.”

Aku menatapnya tajam.

“Aku tidak memaafkanmu.”

Wajah Kevin membeku.

“Aku hanya memilih tidak membuang waktuku untuk menghancurkan orang yang sudah hancur oleh kesalahannya sendiri.”

Kevin menunduk.

Bu Marlina menangis tanpa suara.


Aku mengambil amplop coklat dari Pak Arman.

“Ini dokumen rumah kecil yang akan kalian tempati.”

Bu Marlina menatapku.

“Raka…”

“Rumah itu cukup layak. Ada dua kamar, dapur, ruang tamu kecil, dan halaman sempit. Tidak mewah, tapi cukup untuk hidup.”

Nadia menambahkan pelan.

“Saya sudah siapkan kasur, lemari, peralatan dapur, dan kebutuhan pokok untuk beberapa bulan.”

Bu Marlina menatap Nadia dengan mata basah.

Orang yang paling sering ia hina, justru orang yang masih memikirkan tempat tidurnya.

“Nadia…” suara Ibu bergetar. “Maafkan Ibu…”

Nadia menunduk hormat.

“Saya sudah memaafkan, Bu.”

Bu Marlina menangis lega.

Tapi Nadia melanjutkan.

“Tapi setelah ini, tolong jangan hubungi keluarga kami lagi.”

Tangis Bu Marlina berhenti seketika.


Aku menatap mereka berdua.

“Syaratnya tetap sama.”

Aku meletakkan kunci rumah kecil itu di atas meja.

“Kalian tinggal di sana. Mulai hidup baru. Tapi jangan pernah mencari aku, Nadia, atau keluarga kami lagi.”

Kevin menggigil.

“Bang… sekali saja beri aku kesempatan memperbaiki semuanya.”

“Kesempatanmu sudah terlalu banyak,” jawabku.

“Aku yang membiayai hidupmu. Aku yang membayar kuliahmu. Aku yang membelikan kendaraanmu. Tapi saat kamu mengira aku gila, kamu membuangku.”

Aku menunjuk dokumen di meja.

“Dan saat aku masih di Australia, kamu mencoba mengambil yang bukan hakmu.”

Kevin menangis.

Tidak ada lagi pembelaan.


Bu Marlina berdiri dengan susah payah.

“Jadi… kamu benar-benar tidak menganggap kami keluarga lagi?”

Aku diam beberapa detik.

Pertanyaan itu seharusnya menyakitkan.

Tapi anehnya, hatiku justru terasa tenang.

“Ibu sendiri yang memutuskannya lebih dulu.”

Bu Marlina terisak.

“Kemarin Ibu bilang tidak punya anak bernama Raka.”

Ia menutup wajahnya.

Aku melanjutkan dengan suara lebih pelan.

“Aku tidak membencimu, Bu. Tapi aku tidak bisa lagi hidup dekat dengan orang yang hanya mencintaiku saat aku terlihat berhasil.”

Ruangan sunyi.

Nadia menggenggam tanganku erat.


Tiga hari kemudian, rumah besar itu kosong.

Semua barang Bu Marlina dan Kevin dipindahkan ke rumah kecil yang sudah kusediakan.

Rumah itu sederhana, tapi bersih.

Ada tempat tidur yang layak.
Ada meja makan kecil.
Ada dapur.
Ada beras, minyak, telur, dan kebutuhan pokok.

Nadia sendiri yang memastikan semuanya cukup.

Saat Bu Marlina menerima kunci, ia menangis.

“Nadia… kenapa kamu masih sebaik ini setelah semua yang Ibu lakukan?”

Nadia tersenyum tipis.

“Karena saya tidak ingin menjadi orang yang sama dengan yang menyakiti saya.”

Bu Marlina menunduk.

“Tapi Bu,” lanjut Nadia lembut, “baik bukan berarti saya membuka pintu lagi.”

Kalimat itu membuat Bu Marlina menangis semakin dalam.


Sebelum kami pergi, Kevin mendekat.

Wajahnya kusut. Matanya merah.

“Raka…”

Aku menatapnya.

Ia tampak ingin memanggilku “Bang”, tapi tidak berani.

“Aku benar-benar menyesal.”

Aku mengangguk pelan.

“Bagus. Gunakan penyesalan itu untuk menjadi manusia yang lebih baik.”

“Suatu hari… apa aku boleh minta maaf lagi?”

Aku menatapnya lama.

“Mintalah maaf kepada Tuhan. Kepadaku, cukup sampai di sini.”

Kevin terdiam.

Lalu menunduk.


Aku dan Nadia masuk ke mobil.

Dari kaca spion, kulihat Bu Marlina dan Kevin berdiri di depan rumah kecil itu.

Mereka tidak lagi tampak angkuh.

Tidak lagi terlihat seperti orang yang pernah mengusirku dari rumah besar.

Mereka hanya dua manusia yang akhirnya dipaksa hidup bersama akibat dari pilihan mereka sendiri.

Nadia duduk diam di sampingku.

“Kamu sedih?” tanyaku.

Ia mengangguk pelan.

“Sedih. Tapi lega.”

“Kenapa lega?”

“Karena kita tidak membalas mereka dengan kejahatan.”

Aku menggenggam tangannya.

“Tapi kamu setuju kita tidak berhubungan lagi?”

Nadia menatapku.

“Aku memaafkan mereka, Mas. Tapi aku juga ingin menjaga rumah tangga kita.”

Ia menarik napas pelan.

“Memaafkan tidak selalu berarti memberi akses kembali.”

Aku tersenyum kecil.

Itulah Nadia.

Hatinya luas.

Tapi ia tahu cara menjaga dirinya.


Beberapa minggu kemudian, rumah megah itu kujual.

Aku tidak ingin tinggal di tempat yang menyimpan terlalu banyak luka.

Dengan sebagian uangnya, aku membangun rumah baru untukku dan Nadia.

Tidak semegah mansion lama.

Tapi hangat.

Ada taman kecil di depan.
Ada dapur yang luas untuk Nadia.
Ada ruang kerja sederhana untukku.
Dan ada teras belakang tempat kami bisa duduk setiap sore.

Di rumah itu, tidak ada teriakan.

Tidak ada penghinaan.

Tidak ada orang yang mengukur cinta dari harta.

Hanya ada ketenangan.


Suatu sore, Nadia duduk di sampingku sambil membawa dua cangkir teh.

“Mas,” katanya pelan.

“Hm?”

“Kalau waktu itu aku juga meninggalkan Mas, apa yang akan Mas lakukan?”

Aku menatapnya.

Pertanyaan itu membuat dadaku nyeri.

“Aku mungkin tetap kaya,” jawabku. “Tapi aku tidak akan punya tempat untuk pulang.”

Mata Nadia berkaca-kaca.

“Sekarang Mas sudah pulang.”

Aku menggenggam tangannya.

“Iya.”

Aku menatap rumah kecil kami yang hangat.

Dulu aku kira pulang berarti kembali ke rumah besar.
Disambut ibu.
Dipeluk adik.
Dihargai sebagai anak yang berhasil.

Ternyata aku salah.

Pulang bukan tentang bangunan megah.

Bukan tentang darah.

Bukan tentang orang yang datang saat kita punya segalanya.

Pulang adalah seseorang yang tetap membuka pintu saat seluruh dunia mengusirmu.

Dan bagiku…

pulang itu Nadia.

Tamat.

Also Read

Tags

Leave a Comment