Cerpen: Anak yang Tak Pernah Dipanggil Pulang

Bacatimes

PART 1 — Di Bawah Atap yang Sama

Hujan turun tipis sejak sore ketika Raka pulang membawa kayu bakar di punggungnya.

Bajunya basah. Lumpur menempel sampai lutut. Tapi langkah anak laki-laki 13 tahun itu tetap pelan saat melewati dapur rumah panggung kecil di pinggir sawah.

Dari dalam terdengar suara piring dibanting.

“Dasar anak pembawa sial!” bentak Bu Rini, ibu tirinya. “Disuruh beli garam saja lama!”

Raka menunduk.

“Aku tadi bantu Pak Darto dorong motornya mogok, Bu…”

“Alasan!”

Perempuan itu merebut kantong plastik dari tangan Raka lalu membuangnya ke meja.

Nasi hangat sudah tersedia untuk Aldi, anak kandung Bu Rini yang usianya baru tujuh tahun. Sedangkan di sudut dapur, hanya ada nasi dingin sisa pagi.

Sudah tiga tahun sejak ibu kandung Raka meninggal karena sakit paru-paru. Sejak ayahnya menikah lagi, rumah itu tak pernah terasa hangat.

Apa pun salah di mata Bu Rini.

Kalau ayam hilang, Raka yang dituduh.

Kalau Aldi menangis, Raka yang dimarahi.

Bahkan saat Raka demam, ia tetap disuruh mencari rumput untuk kambing.

Ayahnya sebenarnya tahu. Tapi lelaki itu terlalu sibuk bekerja sebagai buruh bangunan di kota dan jarang pulang.

Malam itu angin bertiup dingin dari arah bukit.

Lampu rumah berkedip-kedip.

Raka duduk di teras sambil memandangi jalan desa yang mulai sepi. Dari kejauhan terdengar suara kentongan ronda dan anjing menggonggong panjang.

Tiba-tiba Aldi keluar membawa mobil-mobilan rusak.

“Kak… besok jadi nemenin aku ke pasar malam?”

Raka tersenyum kecil.

“Iya.”

“Aku suka kalau sama Kak Raka. Kakak baik.”

Belum sempat Raka menjawab, Bu Rini muncul di pintu.

“Aldi! Jangan dekat-dekat dia terus!”

Anak kecil itu langsung diam.

Bu Rini menatap Raka tajam.

“Besok pagi ikut ke kota. Antar sayur ke pasar.”

Raka mengangguk pelan.

Padahal besok sekolahnya ada ujian.

Namun seperti biasa, suaranya tak pernah dianggap penting.

Malam makin larut.

Hujan berubah deras.

Dan tanpa diketahui siapa pun, tanah di jalan turunan menuju kota mulai retak sedikit demi sedikit karena hujan tiga hari berturut-turut.

Pagi datang bersama kabut tebal.

Mobil pikap tua yang mereka tumpangi berjalan pelan melewati jalan bukit yang licin. Bu Rini duduk di depan sambil memeluk Aldi. Sedangkan Raka berada di belakang bersama karung sayur.

Angin dingin menusuk tulang.

Beberapa kali Raka melihat tanah kecil berjatuhan dari tebing.

Perasaannya tiba-tiba tidak enak.

“Pak… jalannya jangan terlalu pinggir…” teriak Raka ke sopir.

Namun suara mesin kalah keras.

Sampai tiba-tiba…

BRAKKK!

Tanah longsor kecil jatuh tepat di depan mobil.

Sopir membanting setir.

Mobil oleng.

Ban belakang tergelincir di lumpur.

Dan perlahan… badan mobil mulai menggantung di bibir jurang.

Di dalam kabin, Bu Rini mulai menjerit histeris sambil memeluk Aldi.

Sedangkan Raka, dengan tubuh gemetar, melihat satu hal yang membuat wajahnya pucat—

Tanah tempat mobil berpijak mulai retak lagi.

Dan kali ini… seluruh tebing itu seperti akan runtuh.

 

PART 2 — Anak yang Tidak Pernah Dipilih

Hujan turun makin deras.

Air bercampur lumpur mengalir di sela ban mobil yang setengah menggantung di bibir jurang. Mesin masih menyala, tapi suara retakan tanah terdengar jauh lebih menakutkan.

“Kita bakal jatuh! Ya Allah… kita bakal jatuh!” teriak Bu Rini panik.

Aldi menangis keras di pelukannya.

Sopir sudah pucat. Tangannya gemetar memegang setir.

“Semua jangan bergerak!” katanya terbata.

Tapi tanah di bawah mobil terus bergeser sedikit demi sedikit.

Raka yang berada di bak belakang memegangi besi mobil kuat-kuat. Hujan membasahi wajahnya. Nafasnya memburu saat melihat pohon bambu kecil tumbuh tak jauh dari pinggir jalan.

Kalau ada yang menahan mobil…

Mungkin mereka masih bisa selamat.

Raka memberanikan diri turun perlahan dari bak belakang.

“Raka! Jangan bergerak!” teriak sopir.

Namun anak itu tetap turun ke lumpur.

Kakinya hampir terpeleset saat tanah amblas kecil di dekat jurang.

Bu Rini menatap dengan wajah ketakutan.

Untuk pertama kalinya, perempuan itu melihat anak yang selama ini ia bentak setiap hari berjalan mempertaruhkan nyawanya demi mereka.

Raka meraih tali tambang di belakang mobil.

Tangannya gemetar karena dingin.

Ia mengikatkan tali ke batang bambu dan pohon kecil di pinggir jalan.

Lumpur terus bergerak.

Suara gemuruh terdengar dari atas bukit.

Longsor susulan.

“Cepat keluarin Aldi!” teriak Raka.

Bu Rini masih shock.

“Aku takut…”

“Bu! Cepat!”

Raka membuka pintu depan paksa. Mobil langsung bergoyang keras.

Aldi menjerit.

Raka menarik anak kecil itu keluar dan menggendongnya menjauh dari mobil.

“Pegang Aldi, Bu!”

Bu Rini menerima anaknya sambil menangis.

“Raka… ayo ikut…”

Namun saat itu tanah di bawah mobil kembali retak panjang.

Sopir masih terjebak di dalam.

Raka menoleh.

Lelaki itu berusaha membuka pintu yang macet.

Tanpa berpikir panjang, Raka berlari kembali ke arah mobil.

“Jangan, Rakaaa!” jerit Bu Rini histeris.

Anak itu tetap masuk lewat sisi belakang.

Beberapa detik kemudian, sopir berhasil keluar dibantu Raka.

Mereka meloncat tepat saat…

BRAAAKKKK!

Separuh jalan longsor jatuh ke jurang.

Mobil pikap itu ikut terseret turun bersama lumpur dan batu besar.

Namun tubuh Raka tidak terlihat.

“RAKAAA!”

Bu Rini menjerit sejadi-jadinya.

Kabut, hujan, dan lumpur menutup pandangan.

Lalu… di bawah reruntuhan tanah yang masih bergerak pelan, terdengar suara kecil penuh sakit.

“Bu… Aldi jangan nangis…”

Air mata Bu Rini langsung pecah.

Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, perempuan itu merasa dadanya dihancurkan rasa bersalah yang begitu besar.

Karena anak yang paling sering ia sakiti… justru sedang mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan keluarganya.

 

PART 3 — Anak yang Tak Pernah Dimiliki, Tapi Menyelamatkan Semuanya

Warga desa datang membawa cangkul dan tali setelah mendengar kabar longsor.

Hujan mulai reda, tapi tanah masih bergerak pelan. Kabut putih turun menutupi jurang seperti asap duka.

Bu Rini berlutut di lumpur.

Tangannya kotor menggali tanah dengan panik.

“Raka… Raka…” suaranya pecah.

Tak ada yang pernah melihat perempuan itu menangis seperti itu sebelumnya.

Aldi terus memanggil nama kakaknya sambil sesenggukan.

Beberapa warga akhirnya menemukan tubuh kecil Raka tertimbun separuh lumpur di balik batang pohon tumbang. Anak itu masih hidup.

Tapi kakinya terjepit besi mobil.

Wajahnya pucat.

Bibirnya gemetar menahan sakit.

“Pelan-pelan! Tarik besinya!” teriak warga.

Raka menahan napas saat besi itu diangkat ramai-ramai.

“Aaaarghhh!”

Jeritnya membuat Bu Rini menangis semakin keras.

Anak itu akhirnya berhasil dikeluarkan lalu dibawa ke puskesmas dengan mobil warga.

Sepanjang perjalanan, Bu Rini memeluk tubuh Raka erat-erat.

Untuk pertama kalinya.

Bukan karena marah.

Bukan karena ingin menariknya kasar.

Tapi karena takut kehilangan.

“Maafin Ibu…” bisiknya sambil menangis. “Maafin Ibu, Nak…”

Raka membuka mata perlahan.

Meski kesakitan, anak itu masih berusaha tersenyum kecil.

“Aldi… selamat kan, Bu?”

Pertanyaan itu menghancurkan hati Bu Rini lebih dalam dari longsor mana pun.

Anak yang selama ini tidak pernah ia anggap keluarga… justru hanya memikirkan keselamatan adiknya.

Dua bulan kemudian, kaki Raka masih harus memakai penyangga kayu.

Ia belum bisa berlari seperti dulu.

Namun rumah itu berubah.

Sangat berubah.

Tak ada lagi bentakan di dapur.

Tak ada lagi nasi dingin di sudut meja.

Setiap pagi Bu Rini selalu membantu Raka berjalan ke teras.

Kadang perempuan itu diam-diam menangis saat melihat bekas luka di kaki anak tirinya.

Luka yang muncul karena menyelamatkan dirinya dan Aldi.

Suatu sore, saat langit desa berubah jingga dan suara azan magrib menggema dari surau kecil, Bu Rini duduk di samping Raka di teras rumah.

“Aku dulu takut,” katanya pelan. “Takut ayahmu lebih sayang sama kamu daripada sama Aldi. Makanya aku jahat…”

Raka diam mendengarkan.

“Tapi ternyata… yang paling tulus di rumah ini justru kamu.”

Angin sore meniup pelan daun bambu di belakang rumah.

Raka tersenyum kecil.

“Aku cuma nggak mau kehilangan keluarga lagi, Bu.”

Kalimat sederhana itu membuat air mata Bu Rini jatuh tanpa bisa ditahan.

Dan sejak hari itu, perempuan itu tak pernah lagi memanggil Raka dengan nada kebencian.

Karena ia akhirnya sadar…

Darah memang bisa melahirkan keluarga.

Tapi pengorbananlah yang benar-benar membuat seseorang pantas disebut anak.

TAMAT

Also Read

Tags

Leave a Comment